Dapet Pekerjaan Rumah….
Walah-walah mba aya…., ni saya lagi kena sindrom males buat ngelog eh malah dikasih Pe Er. Tapi kalo demi sahabat mah apa aja rela tak lakuin deh…asal halal dan baik bagi kesehatan, loh..!! bagi persaudaraan maksudnya….
Kalo gak salah Pe Er-nya berbunyi begini ya:
1. Mengapa blog kamu bernama. . . . .?
2. Mengapa blog kamu pakai template ini?
3. Kejadian apa yang tak terlupakan dalam hidupmu?
4. Kirim PR ini ke 10 sahabat blogger!
Begini jawabanya….
1. Mengapa blog kamu bernama…? Sebelumnya saya perkenalkan diri ya..Nama asli saya cukup singkat, padat dan mungkin sangat jelas. LUKMAN. Cuma 6 huruf doank. Critanya beginu..eh begini..Karena waktu dulu pas ndaftar blogger pake nama Lukman ditolak sama blogger dikarenakan udah ada yang make’ jadi ta ganti sedikit deh seperti gaya penulisan tempoe doeloe. Nah jadilah nama loekman. Trus embel-embel “tp” itu adalah sebuah gelar kebangsaan ala mahasiswa UNNES jurusan Teknologi Pendidikan alias (TP), dari latar belakang historis itulah muncul nama loekmantp…
2. Mengapa blog kamu pakai templet ini? Sebelum menjawab saya mau crita-crita dulu nih.., waktu dulu siang-siang dikala terik matahari saya lagi ngenet di salah satu warnet dikampung kelahiranku. Waktu jalan-jalan lihat blog punya orang dari luar negri saya nyasar sama yang punya template kaya gini. Nah…, mulailah saya jatuh cinta sama ini template. Langsung aja tanpa basa-basi ta copy souce-code nya. yang menarik dari template ini adalah mirip sebuah buku, karena saya suka baca buku jadi akan lebih mudah jatuh cinta sama ini template.
3. Kejadian apa yang tak terlupakan dalam hidupmu? Haduh…,apa ya…, banyak sih. Waktu kecil dulu sering dimarahi sama mama gara-gara suka mandi di Kali kelamaan gak inget jam. Haha…, waktu nangis dapet nilai 3 pas ulangan. Huhu.., trus…waktu nyari alamat orang dari pagi sampe sore gak ketemu-ketemu cuma ngendarai sepeda kecil, trus waktu patah hati.., haduh…, tapi walau dulu kejadian aneh-aneh yang kadang seneng kadang sedih bila diingat-ingat lagi jadi pengen ketawa…^_^
4. Kirim PR ini ke 10 sahabat blogger!
Trataa…, mau ta lempar kemana lagi ini pertanyan-pertanyaan ya? Ya udah setelah berunding sama monitor, mouse, keyboard, headset dan CPU maka ditetapkan orang yang akan menerima pertanyaan di atas adalah….
1. Aziz
2. Bangkit
3. Eka wulandari
4. Noviana satiowati
5. Nanda
6. Bonkzs
7. QQ
8. Subarkah
9. Along arman
10. Aphied
sebelumnya mohan maaf temen-temen,,saya hanya menjalankan amanah..
semoga persahabatan kita jauh lebih erat dikemudian hari..amin...
Wednesday, December 17, 2008
Wednesday, December 3, 2008
award dari sahabat
Sunday, November 30, 2008
musim hati
Suka berkeluh kesah?
Itu tanda jiwa yang lemah…
Berulang kali saya mendapat telfon maupun pesan singkat dari teman saya, pesan yang isinya mengenai keluhan hatinya tentang masalah-masalah yang sedang ia hadapi. Berulang kali pula saya terus memberinya solusi terbaik yang bisa saya berikan. Namun kejenuhan mulai menghinggap hati saya ketika hal serupa selalu menjadi topik utama dalam pembicaraan kami, dan hal itu terus terjadi. Hingga timbul beberapa pertanyaan dalam hati saya apakah masalah itu harus selalu dibicarakan? Apakah masalah akan selesai manakala hanya menjadi bahan omongan semata tanpa adalah penyelesaian kongkret?
Beragam cara orang dalam menghadapi masalah, dan sebagian orang menganggap berkeluh kesah adalah cara terbaik untuk membebaskan diri dari tekanan persoalan yang sedang mendera. Atau sekedar pelampiasan untuk mengurangi beban jiwa yang berat. Karenanya bagi yang menjadikan itu semua sebagai pembenaran, keluh kesah pun bisa menjadi kebiasaan. Dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja, pembicaarannya hanya seputar keluh kesahnya semata. Konon bahasa bekennya “Curhat”. Katanya sih….
Orang yang menjadikan keluh kesah sebagai hobbinya biasanya suka membesar-basarkan masalah, memandang masalah kecil sebagai masalah yang besar, menganggap beban hidup atau masalah yang sedang ia hadapi adalah permasalahan yang paling berat dan paling sulit, seperti dia sendiri yang punya masalah dalam hidup. Seakan-akan ia lupa dengan nikmat Allah terlampau banyaknya dikarenakan sibuk dengan masalahnya. Masalah dalam hidup patilah ada, mana ada toh orang yang gak punya masalah? pasti tidak ada! Justru akan terasa aneh manakala hidup ini tidak ada masalah. Janganlah anda berfikir orang yang punya masalah adalah orang yang bermasalah, namun orang yang sesungguhnya bermasalah adalah orang yang tidak punya masalah. Karena letak kesalahanya adalah ia tak punya masalah sehingga itulah yang sebenarnya disebut orang yang bermasalah. Karena memang demikian kehidupan, ia pada hakekatnya adalah ujian, yang di dalamnya ada pergiliran suka-duka, pendapatan-kehilangan, kelapangan-kesempitan dan sebagainya.
Keluh kesah adalah tanda kelemahan hati dan keerdilnya jiwa. Orang yang selalu berkeluh kesah akan berasumsi “tidak akan terselesaikan”, melihat beban sebagai “yang tidak tertanggungkan” dan menatap jalan keluar sebagai kebuntuan. Padalah setiap masalah pasti ada solusinya, setiap persoalan selalu ada jalan keluarnya. Jadilah pribadi yang tangguh, melihat masalah bukan sebagai “monster” yang tidak bisa dilawan, namun jadikanlah masalah itu sebagai sarana dalam pengembangan diri, kematangan diri dan korek api untuk menyalakan potensi diri anda. Adakalanya sebuah bola harus dibanting dengan keras untuk menghasilkan lentikan yang jauh ke atas….
Itu tanda jiwa yang lemah…
Berulang kali saya mendapat telfon maupun pesan singkat dari teman saya, pesan yang isinya mengenai keluhan hatinya tentang masalah-masalah yang sedang ia hadapi. Berulang kali pula saya terus memberinya solusi terbaik yang bisa saya berikan. Namun kejenuhan mulai menghinggap hati saya ketika hal serupa selalu menjadi topik utama dalam pembicaraan kami, dan hal itu terus terjadi. Hingga timbul beberapa pertanyaan dalam hati saya apakah masalah itu harus selalu dibicarakan? Apakah masalah akan selesai manakala hanya menjadi bahan omongan semata tanpa adalah penyelesaian kongkret?
Beragam cara orang dalam menghadapi masalah, dan sebagian orang menganggap berkeluh kesah adalah cara terbaik untuk membebaskan diri dari tekanan persoalan yang sedang mendera. Atau sekedar pelampiasan untuk mengurangi beban jiwa yang berat. Karenanya bagi yang menjadikan itu semua sebagai pembenaran, keluh kesah pun bisa menjadi kebiasaan. Dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja, pembicaarannya hanya seputar keluh kesahnya semata. Konon bahasa bekennya “Curhat”. Katanya sih….
Orang yang menjadikan keluh kesah sebagai hobbinya biasanya suka membesar-basarkan masalah, memandang masalah kecil sebagai masalah yang besar, menganggap beban hidup atau masalah yang sedang ia hadapi adalah permasalahan yang paling berat dan paling sulit, seperti dia sendiri yang punya masalah dalam hidup. Seakan-akan ia lupa dengan nikmat Allah terlampau banyaknya dikarenakan sibuk dengan masalahnya. Masalah dalam hidup patilah ada, mana ada toh orang yang gak punya masalah? pasti tidak ada! Justru akan terasa aneh manakala hidup ini tidak ada masalah. Janganlah anda berfikir orang yang punya masalah adalah orang yang bermasalah, namun orang yang sesungguhnya bermasalah adalah orang yang tidak punya masalah. Karena letak kesalahanya adalah ia tak punya masalah sehingga itulah yang sebenarnya disebut orang yang bermasalah. Karena memang demikian kehidupan, ia pada hakekatnya adalah ujian, yang di dalamnya ada pergiliran suka-duka, pendapatan-kehilangan, kelapangan-kesempitan dan sebagainya.
Keluh kesah adalah tanda kelemahan hati dan keerdilnya jiwa. Orang yang selalu berkeluh kesah akan berasumsi “tidak akan terselesaikan”, melihat beban sebagai “yang tidak tertanggungkan” dan menatap jalan keluar sebagai kebuntuan. Padalah setiap masalah pasti ada solusinya, setiap persoalan selalu ada jalan keluarnya. Jadilah pribadi yang tangguh, melihat masalah bukan sebagai “monster” yang tidak bisa dilawan, namun jadikanlah masalah itu sebagai sarana dalam pengembangan diri, kematangan diri dan korek api untuk menyalakan potensi diri anda. Adakalanya sebuah bola harus dibanting dengan keras untuk menghasilkan lentikan yang jauh ke atas….
Wednesday, November 26, 2008
kesadaran hati
Gerbong Asap
Pernahkah anda masuk ke dalam gerbong asap?
Gerbong dimana apabila anda masuk di dalamnya maka anda seolah-olah bak ikan yang sedang dipepes, kemudian setelah keluar sekujur badan anda akan melekat aroma seperti aroma kayu yang hendak terbakar tapi tak menyala.
Mungkin seperti itulah gambaran kasarnya sebuah gerbong yang amat fenomenal yang sering saya tumpangi. Gerbong yang sedari dulu mengeluarkan asap tak sedap dan selalu menusuk-nusuk tulang hidung orang yang menghirupnya, asap ajaib yang keluar dari mulut-mulut manusia…, tahukah anda gerbong fenomenal itu? Tak lain dan tak bukan adalah Gerbong Kereta Api!!!
Pemandang seperti itu mungkin tidak asing lagi bagi anda penikmat setia kereta api atau transportasi umum lain yang masih kurang perhatiannya dalam hal ketertiban dan kenyamanan penumpangnya.
Dalam hal ini saya tidak terlalu mengomentari masalah bahaya rokok yang sering sekali digembar-gemborkan dimana-mana, baik di media cetak maupun elektronik bahkan dibungkus rokok itu sendiri pun sudah ada peringatannya. akan tetapi yang ingin saya sampaikan adalah mengenai “budaya kesadaran” menempatkan sesuatu pada tempatnya. Budaya seperti itu memang belum sepenuhnya dimengerti dan dipahami kebanyakan orang, karena memang tingkat kecerdasan emosi atau yang sering kita sebut dengan Emotional Quotient (EQ) harus senantiasa kita latih dalam kepentingan pengembangan segi-segi kehidupan yang tertata.
Apa yang terjadi diatas adalah sebuah impact tingkat emosi yang rendah dari seseorang sehingga mereka tidak mampu untuk mengendalikan nafsunya. Bukankah masih banyak waktu, tempat yang luas dan cocok untuk merokok? Bukan malah berkolaborasi menciptakan Gerbong Asap di dalam Kereta Api. jika anda (perokok) mengetahui akan kesadaran itu maka tidak akan mungkin Gerbong Asap akan ada. Kesadaran seperti itulah yang mesti kita terapkan dan kita wariskan kepada para arsitek peradaban yaitu generasi muda sekarang. Namun sungguh disayangkan manakala hal-hal kecil seperti itu diabaikan dan dianggap remeh. Kesadaran hati bukan berasal dari luar namun bangkit dari dalam yang bersumber dari suara hati. Buah kesadaran tidak memerlukan tepuk tangan orang lain, tidak peduli dengan riuh-rendah sorak-sorai. Kesadaran hati tidak pamrih, dan kesadaran hati adalah berpegang pada sebuah prinsip. Yang diinginkan hanyalah sebuah tepukan halus di pundak dari seorang malaikat. Kesadaran tidak mengharapkan terima kasih. Kesadaran hati hanya bersahabat dengan suara hati, suara Tuhan. Dan kesadaran hati hanya mengharapkan sebuah catatan kecil dari seorang malaikat yang berada pada bahu kanannya.
Bukankah suatu bangsa akan maju dan berkembang manakala manusia di dalamnya mengerti dan mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya??? Dalam hal apa saja, kapanpun waktunya dan dimanapun tempatnya jika semua tertata rapi akan lebih indah dan terpuji.
Setiap kata yang ia ucapkan, tentulah di sampingnya ada penjaga yang siap (mencatat) -Q.S. 50 surat Qaaf ayat 18-
Pernahkah anda masuk ke dalam gerbong asap?
Gerbong dimana apabila anda masuk di dalamnya maka anda seolah-olah bak ikan yang sedang dipepes, kemudian setelah keluar sekujur badan anda akan melekat aroma seperti aroma kayu yang hendak terbakar tapi tak menyala.
Mungkin seperti itulah gambaran kasarnya sebuah gerbong yang amat fenomenal yang sering saya tumpangi. Gerbong yang sedari dulu mengeluarkan asap tak sedap dan selalu menusuk-nusuk tulang hidung orang yang menghirupnya, asap ajaib yang keluar dari mulut-mulut manusia…, tahukah anda gerbong fenomenal itu? Tak lain dan tak bukan adalah Gerbong Kereta Api!!!
Pemandang seperti itu mungkin tidak asing lagi bagi anda penikmat setia kereta api atau transportasi umum lain yang masih kurang perhatiannya dalam hal ketertiban dan kenyamanan penumpangnya.
Dalam hal ini saya tidak terlalu mengomentari masalah bahaya rokok yang sering sekali digembar-gemborkan dimana-mana, baik di media cetak maupun elektronik bahkan dibungkus rokok itu sendiri pun sudah ada peringatannya. akan tetapi yang ingin saya sampaikan adalah mengenai “budaya kesadaran” menempatkan sesuatu pada tempatnya. Budaya seperti itu memang belum sepenuhnya dimengerti dan dipahami kebanyakan orang, karena memang tingkat kecerdasan emosi atau yang sering kita sebut dengan Emotional Quotient (EQ) harus senantiasa kita latih dalam kepentingan pengembangan segi-segi kehidupan yang tertata.
Apa yang terjadi diatas adalah sebuah impact tingkat emosi yang rendah dari seseorang sehingga mereka tidak mampu untuk mengendalikan nafsunya. Bukankah masih banyak waktu, tempat yang luas dan cocok untuk merokok? Bukan malah berkolaborasi menciptakan Gerbong Asap di dalam Kereta Api. jika anda (perokok) mengetahui akan kesadaran itu maka tidak akan mungkin Gerbong Asap akan ada. Kesadaran seperti itulah yang mesti kita terapkan dan kita wariskan kepada para arsitek peradaban yaitu generasi muda sekarang. Namun sungguh disayangkan manakala hal-hal kecil seperti itu diabaikan dan dianggap remeh. Kesadaran hati bukan berasal dari luar namun bangkit dari dalam yang bersumber dari suara hati. Buah kesadaran tidak memerlukan tepuk tangan orang lain, tidak peduli dengan riuh-rendah sorak-sorai. Kesadaran hati tidak pamrih, dan kesadaran hati adalah berpegang pada sebuah prinsip. Yang diinginkan hanyalah sebuah tepukan halus di pundak dari seorang malaikat. Kesadaran tidak mengharapkan terima kasih. Kesadaran hati hanya bersahabat dengan suara hati, suara Tuhan. Dan kesadaran hati hanya mengharapkan sebuah catatan kecil dari seorang malaikat yang berada pada bahu kanannya.
Bukankah suatu bangsa akan maju dan berkembang manakala manusia di dalamnya mengerti dan mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya??? Dalam hal apa saja, kapanpun waktunya dan dimanapun tempatnya jika semua tertata rapi akan lebih indah dan terpuji.
Setiap kata yang ia ucapkan, tentulah di sampingnya ada penjaga yang siap (mencatat) -Q.S. 50 surat Qaaf ayat 18-
Saturday, October 18, 2008
Song VS Childrens
Suatu ketika ada sebuah kejadian yang membuat saya terheran-heran tapi juga menyedihkan. Sore itu saya dapati ada seorang anak berusia 3 tahun secara fasih sedang menyanyikan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh sebuah group band ternama di negeri kita ini, lagu yang isinya mengenai percintaan dua insan. Bagi saya, itu merupakan pemandangan yang lucu juga mengerikan. Karena begitu kuatnya sebuah lagu mempengaruhi psikologis anak sampai-sampai lirik demi lirik sampai titik koma dihafalnya dan bukan tidak mungkin mereka akan mengimplementasikannya di usia yang jauh dari dewasa
Lagu merupakan sebuah ekspresi jiwa yang dapat menggambarkan sebuah perasaan dari orang yang menyanyikannya. Namun apa jadinya bila sebuah lagu salah dikonsumsi oleh orang? Maksudnya apabila sebuah lagu dinyanyikan oleh orang yang seharusnya belum cukup umur untuk menyanyikannya, anak-anak. Ya seperti kisah diatas, anak-anak adalah manusia kecil yang seharusnya memerlukan bimbingan khusus dalam mengkonsumsi apa yang diserapnya, salah satunya adalah konsumsi lagu. Coba anda bayangkan apabila seorang anak yang masih sangat dibawah umur menyanyikan sebuah lagu-lagu orang dewasa yang kebanyakan isinya mengenai cinta, pacaran, patah hati dan kawan-kawannya itulah, tahu kan maksudnya? Yupz…
Hal yang sangat mungkin terjadi adalah si anak akan tumbuh dewasa sebelum waktunya, salah satunya karena pengaruh dari lagu-lagu yang dikonsumsinya itu. Cukup memprihatinkan pula ternyata banyak orang tua yang membiarkan anaknya tanpa terkendali mengkonsumsi lagu-lagu yang tidak mendidik. Alangkah baiknya apabila para orang tua mengajarkan pada anak-anaknya untuk memilih lagu yang mengandung norma-norma sopan santun dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak, karena bukan saatnya anak-anak usia dini diajari masalah percintaan seperti dalam lirik-lirik sebuah lagu. Bukan maksud untuk membatasi anak dalam belajar namun hal itu untuk mencegah timbulnya akhlak dan moral buruk anak dikemudian hari.
Dari kejadian seperti di atas maka ada sebuah kritik bagi para pencipta lagu untuk lebih memperhatikan pendidikan anak dengan menciptakan lagu-lagu anak yang layak dan aman dikonsumsi oleh anak-anak. Bila kita tilik dimasa sekarang ternyata para pencipta lagu anak rupanya sudak mulai kendor dan hanya beberapa saja yang masih setia untuk menciptakan lagu-lagu yang bermuatan pendidikan bagi anak, hal itu dapat dibuktikannya dengan produksi lagu-lagu anak dari tahun ke tahun yang mengalami penurunan yang tajam. Akan tetapi tidak adil apabila kita hanya mengkritik para pencipta lagu yang kurang memperhatikan pendidikan anak namun kritik itu berlaku kepada kita semua yang mempunyai tanggung jawab kepada sesama, terutama kepada anak. Anak sehat bangsa sehat
Subscribe to:
Posts (Atom)
