-Kesuksesan dan keberhasilan itu hanya soal waktu. tapi sekarang adalah soal cara, soal mengisi dan soal aplikasi-
Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Wednesday, February 8, 2012

Surat Dari Anak yang digugurkan

Dear Bunda…


Bagaimana kabar bunda hari ini? Smoga bunda baik-baik saja…nanda juga di sini baik-baik saja bunda… Allah sayang banget deh sama nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda sama bunda…. 


Bunda, ingin sekali nanda menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sesaat…

Monday, March 14, 2011

Mahasiswa "Autis"



Kawan, kalian pernah mendengar orang mengatakatan bahwa internet obat segala penyakit pendidikan? Percayalah, jangan terlalu percaya dengan internet, apalagi jika dikaitkan dengan pembelajaran. Bagaimana bisa demikian? Salah satu potensi buruk penggunaan internet dalam praksis pendidikan adalah mengarah pada masyarakat yang monokultur, yakni ketika hampir semua orang mengakses informasi dengan menggunakan kata kunci tertentu melalui mesin pencari Google, yang tentunya akan terjadi kondisi di mana semua orang mendapatkan informasi yang sama. Ini adalah paradoks yang terjadi di tengah hadirnya internet yang menawarkan seabreg keragaman informasi.
Monokultur tersebut akan berbuah pada mono-knowledge karena sumber informasi dan pengetahuannya sama. Maka jangan terlalu kaget apabila ada mahasiswa atau dosen mudah melakukan plagiat dari sumber yang sama. Dengan pengetahuan yang sama tersebut, maka internet justru menjadi kontraproduktif dengan tujuan digunakannya internet dalam pendidikan. tidak peduli betapa cepat dan banyak informasi bisa diakses via internet, namun yang lebih penting adalah informasi apakah itu? Nilai-nilai, kultur dan ideologi apakah yang diakses tersebut? Pengetahuan apakah yang dipelajari, pribadi macam apakah yang terbentuk setelah mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan via internet tersebut?
Masalah di atas sepertinya bukan hal baru yang anda dengar. Hal yang lumayan lucu bagi saya, internet seringkali membuat penggunanya menjadi “autis”. Internet seringkali menimbulkan problem psikologis dan sosial. Misalnya dengan melihat praktik pembelajaran di internet, kemudahan yang ditawarkan, maka mahasiswa seringkali menjadi lebih merasa nyaman dengan dunia internet ketimbang dunia kehidupan nyata mereka sehari-hari. Mereka menjadi “autis” dalam interaksi keseharian. Mereka menjadi lebih merasa memiliki ikatan emosional dengan tema-teman mereka di jejaring pertemanan Facebook, ketimbang dengan tetangga dan masyarakat tempat mereka tinggal. Dengan kata lain, mereka kemudian berjarak dengan realita sosio-kultural yang terjadi di sekitar mereka. Hal-hal itulah yang seringkali tidak banyak diperhatikan oleh para pendidik dalam pertimbangan dan praktik pembelajaran berbasis ICT, terutama internet.
Singkatnya, dampak lain dari kecanduan internet adalah penyakit “autis” yang baru-baru ini saya rasakan. Pernah seorang teman curhat kepada saya betapa dongkolnya ia ketika berada di tengah-tengah mahasiswa yang sedang hotspotan di kampus. Ia merasa dicuekin. Penyakit tersebut dapat menyerang siapa saja yang doyan online. Gejalanya dapat dirasakan jika sedang berkumpul dengan kawan anda yang sedang hotspotan di kampus. Maka saran saya adalah, jangan sekali-kali anda mengajak ngobrol orang yang sedang online di depan laptopnya. Karena bisa jadi dia sudah terjangkit penyakit “autis”. Sekian.

Sunday, September 26, 2010

Mari Kita Kembali Kampungan

Salah satu trauma masa depan adalah kemacetan jalan raya, bukan karena jalannya yang sempit, bukan juga karena jumlah kendaraan yang membludak, tapi karena satu hal : ketidakdisiplinan penggunanya. Saling srobot di lampu merah, srobot trotoar. Percayalah, dalam keadaan macet, si pengguna jalan bisa melihat trotoar kosong seperti melihat lahan tanpa tuan yang siap digarap. Itu baru masalah jalan. Yang keruwetannya sudah kita rasakan bersama, pagi dan sore hari puncaknya.
Televisi pun demikian juga, terlihat teratur, namun sebenarnya kesemrawutannya mirip dengan jalan raya kita. Pagi hari berita korupsi, siang berita perceraian artis, dan malamnya diisi dengan gemerlap artis sinetron. Demikian pula iklan produk. iklan produk sekarang sudah kian cerdasnya, saking cerdasnya kita pun musti berguru padanya, berguru bagaimana caranya makan biscuit yang benar, yang harus diputer, dijilat dan diclupin terlebih dahulu. Bahkan berguru bagaimana caranya mengusir nyamuk dengan efektif. Kita, tanpa sadar telah belajar banyak menjadi masyarakat konsumtif dan masyarakat yang selalu didikte urusan remeh temeh. Pantas saja keruwetan televisi melebihi jalan raya kita.
Di dunia nyata sudah jelas, di dunia maya pun ruwetnya masyaALLAH…, hanya gara-gaya “keong” saja udah geger, saling claim itu keong milik siapa. Padahal di desa saya keong yang tidak beracun pun banyak, bertaburan. Lagi-lagi itu baru satu masalah saja, masalah “keong” yang sudah menggemparkan. Untuk masalah yang lain, Saykoji, sepertinya paham betul masalah di dunia maya.
Disini saya hanya ingin menyampaikan, betapa kian maju perkembangan jaman betapa keruwetan masalah di dalamnya juga kian pesatnya. Sudah cukup kenyang kita dengan masalah seperti itu, kita butuh istirahat, kita butuh sejenak “melarikan diri” dari kesemrawutan jaman. Maka, adakalanya kita butuh kembali menjadi kampungan. Pura-pura saja untuk tidak mengenal televisi, pura-pura saja alergi dengan kendaraan, dan pura-pura saja tak tahu menahu masalah internet. Menjadi orang kampungan (wong ndeso) ada baiknya. Setidaknya untuk beberapa saat saja.

Friday, June 18, 2010

Tradisi yang Pantas

7 Desember 1941, demikian yang dicatat oleh Encarata Encyclopedia. Terjadi sebuah kejadian besar yang cukup mengejutkan sejarah. Sebuah serbuan kilat jepang atas Pearl Harbor yang sedikitnya menenggelamkan 21 kapal perang, menghancurkan 200 pesawat tempur, dan menewaskan 3000 personel angkatan laut amerika serikat.
Inisiator serbuan gemilang itu adalah Laksamana Isoru Yamamoto yang menunjukan kepada kita arti penting sebuah “Warisan Leluhur”. Perhatikanlah apa yang dilakukan oleh tentara Jepang, terutama pada rudal-rudal torpedik Jepang yang menghancurkan kapal-kapal Amerika saat itu, ternyata rudal-rudal Jepang didesain untuk mengambang di dekat permukaan begitu dijatuhkan dari pesawat tempur ke lautan. Sungguh luar biasa bukan? Artinya, pesawat tempur Jepang tidak menjatuhkan Bom di atas kapal secara langsung. Mereka cukup menjatuhkan rudal torpedik dari arah kejauhan dengan arah yang tepat, dan rudal itu akan meluncur dipermukaan air kemudian menghantam lambung kapal perang Amerika. Anda tahu apa yang membuat rudal itu mengambang? Yups…Kayu dan Bambu.
Memakai kayu dan bambu adalah tradisi jepang yang terlestari. Jepang sangat terkenal komitmennya dengan warisan nenek moyang mereka. Namun, cukup disayangkan ada juga tradisi atau anggapan mereka yang tidak perlu dipertahankan, yaitu anggapan rakyat dan para prajurit jepang bahwa dirinya, Sang Tenno, merupakan turunan langsung Amaterasu Omikami, dewa Matahari. Dengan asumsi itulah, para prajurit jepang tega membungihanguskan banyak negeri, bahkan dengan Kamikaze, karena merasa sedang melakukan pengabdian tertinggi dan membawa tugas suci untuk menebarkan cahaya Matahari ke seluruh penjuru dunia. Betapa mengerikan! Maka dengan bijak, pada tanggal 1 januari 1946, kaisar Hirohito mengumumkan dengan tegas bahwa dirinya adalah manusia biasa yang tak ada sangkut pautnya dengan “kedewaan”
Dan akhirnya pun Kaisar Hirohito sukses mematahkan salah satu tradisi nenek moyangnya yang sangat membahayakan. Itulah gambaran singkat mengenai Jepang dan Tradisinya. Nah, sekarang bagaimana dengan kita? Apakah tradisi yang menyesatkan masih kita anut? Apa saja tradisi menyesatkan itu? Tradisi yang menghambat laju perubahan, perlu bahkan wajib kita tinggalkan. Yang sering saya temui adalah tradisi “jam karet”. Tak patut juga itu disebut tradisi, namun berhubung jam karet sering bahkan hampir selalu terjadi dimana-mana maka tak ubahnya juga disebut tradisi. Disebut sebuah tradisi karena pertama kali berawal dari kebiasaan seseorang, berkembang menjadi kebiasaan kelompok dan jikalau sudah terjadi dalam waktu yang cukup lama dan sudah menjadi pembiasaan dan kesepakatan entah disengaja maupun tidak disengaja, maka muncullah tradisi. Menyebalkan memang, jika tiap aktifitas selalu saja tidak tepat waktu, dari mulai jadwal pemberangkatan kereta sampai rapat sekalipun tetap saja tidak bisa tepat waktu.

Sunday, September 27, 2009

Paling Indah di Makkah

Sore itu, seorang pria kurus datang menghampiri rumahku dengan langkah tergopoh-gopoh pelan, amat pelan. Keringatnya bercucuran seakan semua keringatnya dikeluarkan. Pria itu adalah seorang pria yang setahun lalu mengalami kecelakaan dahsyat hingga hampir-hampir merenggut nyawanya, namun untung saja dia hanya mengalami koma beberapa bulan, ya..beberapa bulan saja. Dengan langkah yang memaksakan diri, dengan keinginan kuatnya ia datang menemuiku dan keluargaku untuk bersilaturrahmi setelah sekian lama ia terbaring di Rumah Sakit.
Aku persilahkan ia masuk, duduk dan menikmati hidangan yang disajikan. Aku perhatikan ia sedikit berbeda, ups..bukan sedikit tapi banyak perbedaan. Baik fisik maupun psikologisnya. Amat berbeda.
Perbincangan pun dimulai, mulailah kami bercakap-cakap. Dengan wajah serius tapi lucu ia paparkan kejadian yang dulu hampir merengut nyawanya, kecelakaan motor setahun yang lalu. Ia ceritakan, ia nasehati dan ia sarankan agar supaya aku sentiasa berhati-hati jangan sampai mengalami hal yang sama. “sudah 200 juta rupiah melayang hanya untuk biaya pengobatanku luk, tapi aku bersukur masih bisa hidup” begitu ungkapnya.
Tiba-tiba disela-sela pembicaraan ia berucap “urip paling enak Cuma ono ning mekkah (hidup paling enak berada di makkah)”,
aku heran, karena setahuku ia tidak pernah menginjakan kaki di makkah, apalagi menghirup oksigen disana. Dengan nada polos dan sedikit menaikkan alis mata aku bertanya kepadanya “maksudnya?, bukankan anda belum pernah kesana??” ia menjawab “itu dia masalahnya, aku bermimpi, tapi aku yakin sedang tidak bermimpi, aku pernah kesana Luk” ia menceritan pada saat terbaring koma beberapa bulan di Rumah Sakit ia sempat mengalami perjalanan spiritual yang amat berkesan baginya, begitu nyata dan begitu terasa hingga ia mengulang perkataannya kalau ia sedang tidak bermimpi..!!!
dengan detail ia menceritakan bahwa ia berkunjung kesuatu tempat yang amat indah, indahnya tak dapat digambarkan. Bangunan tinggi menjulang begitu megahnya, taman-taman bunga yang berkilau, burung-burung hijau yang menari di pepohonan, suara angin amat pelan terdengar disana, tidak ada keributan dan hiruk-pikuk seperti di dunia. Dengan heran ia bertanya kepada penjaga rumah yang ada disana dengan sigap penjaga rumah tadi menjawab hanya dengan memberi isyarat agar jangan berisik, tanpa kata-kata menempelkan jari telunjukanya dikedua bibirnya. Sekian lama ia diam barulah penjaga rumah tadi berucap dengan nada yang amat pelan seakan-akan ia takut kalau sang penghuni rumah terganggu karena ucapannya, ia bekata “bapak, rumah siapakah ini? Indah sekali rumahnya” “inilah rumah penghuni surga “
sejak pertemuan dengan sang penjaga rumah mulailah ia suka dengan kehidupan disana, hingga berkali-kali ia mengatakan “urip paling enak cuma ono ning mekkah”.
Berjalanlah ia ke sebuah tampat yang lain dimana tempat ini sangat berbeda dengan yang tadi, tempat yang menyeramkan, panas dan bisa membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana ia bisa merinding?ya..karena yang ia lihat adalah para manusia yang tak berdaging, hanya tulang yang terbungkus kulit dan kemana-mana ia memakai kalung besi segitiga yang menyala-nyala. Mengerikan, sungguh mengerikan!!
Tak kuat dengan apa yang ia lihat, ia pun bertanya kepada salah seorang penjaga disana “bapak, siapakah orang itu?” “itu adalah orang yang di dunia selalu bermaksiat” jawab sang penjaga.
Ngeri melihat pemandangan yang begitu menyiksa, ia pun kembali menelusuri tempat yang lain. Ia melihat kerumunan manusia disebuah padang yang amat luas, ia mengira itu adalah makkah. Jutaan orang berkumpul disana dengan berbagai warna baju masing-masing.
Lalu tibalah ia disebuah jalan yang menurun, jalan yang amat panjang dan lurus dan disamping kanan-kirinya tidak ada apa-apa. Sebuah tikungan kecil disamping kanan ia lihat setelah sekian lama berjalan, diikutinya tikungan kanan itu dan ia terperanjat melihat sebuah bagunan yang tepat di depan bangunan itu ada tiga buah tong yang amat besar tiga buah tong itu masing-masing bertuliskan angka 30, 45, dan 70. Kembali ia bertanya kepada penjaga rumah apa guna tong-tong besar itu dan apa maksud dari angka-angka yang tertera di tong. Sang penjaga rumah menjawab “Tong 30 adalah untuk orang-orang yang amalan di dunia biasa-biasa saja, Tong 45 adalah untuk orang-orang yang lebih baik, dan Tong 70 adalah khusus untuk orang-orang shaleh yang banyak beramal”
Mendengar jawaban itu ia begitu terkejut dan ia ungkapkan ingin tinggal disana untuk selama-lamanya, di tempat yang ia kira sebagai makkah……...
Begitulah perjalanan spiritual seorang penjual rongsok di Jakarta yang mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Perjalanan yang ia dapat sewaktu terbaring koma di Rumah Sakit. Sejak saat itu ia selalu bilang kepadaku…”urip paling enak Cuma ono ning mekkah”

Saturday, April 4, 2009

Bohong

Konon seiring dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, terciptalah alat pendeteksi kebohongan. Dengan sesnsor supercermat dan supersensitive pada alat tersebut, dapat diketahui orang tersebut sedang bohong atau tidak.
Pastilah soal kebohongan ini adalah persoalan yang cukup serius hingga perlu diciptakan alat pendeteksi kebohongan. Berawal dari sebuah kebohongan, bisa jadi runyamlah sebuah keluarga. Atau dalam skala yang lebih besar bisa sampai menyababkan buramnya sejarah sebuah bangsa akibat pembelokan sejarah, gara-gara cerita bohong.

Sebenarnya ada apa sebenarnya dengan kebohongan?
Baiklah. Kita awali dengan mengerti makna kata bohong. Bohong dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) berarti tidak sesuai dengan hal (keadaan dsb) yang sebenarnya.
Lantas apakah kita selamanya harus berkata benar? adakah saat-saat tertentu yang membolehkan kita berbohong?
Jika ditinjau dari maknanya, tentu bohong tidak boleh dilakukan karena jelas, wong kejadiannya begini kok dikatakan begitu. Itu namanya menyesatkan. Tapi bagaimana jika keadaan tidak memungkinkan kita untuk berkata benar? Artinya, keadaan yang benar-benar darurat, harus bohong. Jika tidak berbohong justru berbahaya. Maka munculah apa yang disebut retorika, seni berkata-kata. Bohong sih, tapi sebenarnya tidak bohong.
Seorang guru saya penah bercerita bahwa ada seorang kakek yang menyelamatkan pemuda dengan ”seni bohong”. Dikisahkan bahwa seorang pemuda yang kita sepakati dulu tidak bersalah lho- sedang dikejar-kejar hendak dibunuh oleh sekelompok orang. Pemuda itu lantas meminta bantuan kepada si kakek untuk bersembunyi di rumah kakek itu. Saat orang-ornag yang mengejar tersebut bertanya kepada si kakek, apakah melihat seorang pemuda yang berlari? Kakek tersebut lantas bergeser beberapa senti dari tempat berdiri dan menjawab “sejak aku berdiri disini, aku tak melihat seorang pun yang lewat di depanku” maka selamatlah si pemuda.
Apa yang dilakukan si kakek adalah seni berkata-kata, ia tidak berbohong. Seandainya pun pada saat itu si kakek berbohong, tindakan itu tetap bisa dibenarkan karena memang keadaan darurat, demi menyelamatkan seseorang yang tidak bersalah
Yang kemudian menjadi soal,
apakah kondisi jaman sudah begitu “darurat”, memasuki jaman edan-edanan, sing ora edan bisa dadi edan tenan, sehingga harus ada seabrek kebohongan?
Terlapas dari itu ada sebuah cerita menarik mengenai paradoks kebohongan.
Pada abad ke-6 SM, dari pulau kreta Yunani, seorang penduduk Yunani mengatakan, ”semua penduduk Yunani adalah pembohong”. Apakah ia mengatakan kebenaran? Jika benar semua penduduk Yunani adalah pembohong, maka dirinya juga pembohong, sehingga kata-kata “semua penduduk Yunani adalah pembohong” adalah pernyataan bohong. Maka tidak benar bahwa semua penduduk Yunani adalah pembohong; dan seterusnya.
Teramat banyak kebohogan sekaligus kebenaran bergencatan saling tumpang tindih di sekitar kita. Begitu rumit dan berbelit-belit dalam memahami sebuah kebohongan. Batas antara kebohongan dan kebenaran menjadi sangat rancu.
Terkadang kita masih belum dapat memahami bahwa sebenarnya kita sedang berbohong atau berkata benar.

Wednesday, November 26, 2008

kesadaran hati

Gerbong Asap
Pernahkah anda masuk ke dalam gerbong asap?
Gerbong dimana apabila anda masuk di dalamnya maka anda seolah-olah bak ikan yang sedang dipepes, kemudian setelah keluar sekujur badan anda akan melekat aroma seperti aroma kayu yang hendak terbakar tapi tak menyala.
Mungkin seperti itulah gambaran kasarnya sebuah gerbong yang amat fenomenal yang sering saya tumpangi. Gerbong yang sedari dulu mengeluarkan asap tak sedap dan selalu menusuk-nusuk tulang hidung orang yang menghirupnya, asap ajaib yang keluar dari mulut-mulut manusia…, tahukah anda gerbong fenomenal itu? Tak lain dan tak bukan adalah Gerbong Kereta Api!!!
Pemandang seperti itu mungkin tidak asing lagi bagi anda penikmat setia kereta api atau transportasi umum lain yang masih kurang perhatiannya dalam hal ketertiban dan kenyamanan penumpangnya.
Dalam hal ini saya tidak terlalu mengomentari masalah bahaya rokok yang sering sekali digembar-gemborkan dimana-mana, baik di media cetak maupun elektronik bahkan dibungkus rokok itu sendiri pun sudah ada peringatannya. akan tetapi yang ingin saya sampaikan adalah mengenai “budaya kesadaran” menempatkan sesuatu pada tempatnya. Budaya seperti itu memang belum sepenuhnya dimengerti dan dipahami kebanyakan orang, karena memang tingkat kecerdasan emosi atau yang sering kita sebut dengan Emotional Quotient (EQ) harus senantiasa kita latih dalam kepentingan pengembangan segi-segi kehidupan yang tertata.
Apa yang terjadi diatas adalah sebuah impact tingkat emosi yang rendah dari seseorang sehingga mereka tidak mampu untuk mengendalikan nafsunya. Bukankah masih banyak waktu, tempat yang luas dan cocok untuk merokok? Bukan malah berkolaborasi menciptakan Gerbong Asap di dalam Kereta Api. jika anda (perokok) mengetahui akan kesadaran itu maka tidak akan mungkin Gerbong Asap akan ada. Kesadaran seperti itulah yang mesti kita terapkan dan kita wariskan kepada para arsitek peradaban yaitu generasi muda sekarang. Namun sungguh disayangkan manakala hal-hal kecil seperti itu diabaikan dan dianggap remeh. Kesadaran hati bukan berasal dari luar namun bangkit dari dalam yang bersumber dari suara hati. Buah kesadaran tidak memerlukan tepuk tangan orang lain, tidak peduli dengan riuh-rendah sorak-sorai. Kesadaran hati tidak pamrih, dan kesadaran hati adalah berpegang pada sebuah prinsip. Yang diinginkan hanyalah sebuah tepukan halus di pundak dari seorang malaikat. Kesadaran tidak mengharapkan terima kasih. Kesadaran hati hanya bersahabat dengan suara hati, suara Tuhan. Dan kesadaran hati hanya mengharapkan sebuah catatan kecil dari seorang malaikat yang berada pada bahu kanannya.
Bukankah suatu bangsa akan maju dan berkembang manakala manusia di dalamnya mengerti dan mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya??? Dalam hal apa saja, kapanpun waktunya dan dimanapun tempatnya jika semua tertata rapi akan lebih indah dan terpuji.
Setiap kata yang ia ucapkan, tentulah di sampingnya ada penjaga yang siap (mencatat) -Q.S. 50 surat Qaaf ayat 18-